salah satu hari libur sisa cuti besar pekan kemarin saya manfaatkan untuk melakukan perpanjangan sim c di polres kudus. secara umum pelayanan perpanjangan sim ini patut diapresiasi, cepat dan tidak berbelit-belit. meskipun memang masih ada calo-calo berkeliaran.
untuk saya, ini perpanjangan kedua, setelah perpanjangan pertama lima tahun lalu. dan karena lima tahun lalu belum saya dokumentasikan di sini, inilah saatnya mendokumentasikan proses perpanjangan sim c tersebut.
tidak terlalu pagi kedatangan saya ke polres kudus. sudah ramai, termasuk di parkiran sepeda motor. tempat parkir yang adem di bawah pohon pun tidak berhasil saya dapatkan. tidak apa-apa, setidaknya masih ada tempat parkir untuk motor pinjaman yang saya pakai hari itu. kesan pertama langsung tidak mengenakkan ketika tukang parkir menawarkan untuk mencalo-i proses perpanjangan sim saya hari itu.
untunglah tidak ada yang tidak mengenakkan ketika tawaran itu tidak saya sambut. beliau pun tidak berkeberatan untuk menunjukkan tempat fotokopi. saya menuju ke sana untuk memfotokopi ktp dan sim serta membeli map. cukup dua ribu rupiah untuk fotokopi dan map. berikutnya saya menuju tempat pelayanan pembuatan sim. saya amati alurnya dan ternyata ada syarat surat kesehatan yang perlu dilampirkan. saya bertanya kepada teller bri yang ada di sana, ternyata pelayanan pembuatan surat kesehatan berada di dekat asrama polisi di rendeng. itu sekitar dua kilometer dari polres kudus.
hmmm....
tidak mungkin saya jalan kaki ke sana. saya harus berkendara. artinya saya harus mengeluarkan ekstra seribu untuk bayar parkir pertama tersebut. untuk seribu rupiah penghematan, saya sarankan mengawali proses perpanjangan sim c dari tempat tes kesehatan.
baiklah, cerita berlanjut, saya ambil motor dari tempat parkir, meminta kembalian seribu atas uang dua ribu yang saya bayarkan dan segera menuju ke arah rendeng. yang paling terkenal dari rendeng adalah pabrik gula, ke arah situlah saya menuju. saya kebingungan ketika tidak menemukan asrama polisi di sekitar pabrik gula tersebut. beruntung saya mengingat ada teman saya yang mempunyai mertua di daerah sana. saya menghubungi beliau, dan mendapat informasi letak asrama polisi ada di rendeng di sebelah utara pentol.
tepatnya, kalo dari arah polres, lurus ke arah pati, lampu merah pentol, belok ke kiri. asrama ada di kiri jalan setelah lapangan. tempat tes kesehatannya di sebelah kanan jalan di klinik dr. eny. saya lupa nama panjangnya, mungkin eny puji astuti. tes kesehatan berlangsung dengan sangat cepat dan saya memperoleh selembar surat kesehatan. biaya tes kesehatan dua puluh lima ribu.
berikutnya saya kembali ke polres, ke tempat pelayanan sim. saya serahkan map berisi fotokopi ktp dan sim, serta surat kesehatan ke teller bri untuk membayar. di situlah saya diingatkan untuk menuliskan nama dan beberapa keterangan di map. hal itu menyadarkan saya bahwa seharusnya saya membawa pulpen jika akan memperpanjang sim. singkat cerita, saya berhasil mengisi map itu, menyerahkannya kepada teller bri dan membayar biaya perpanjangan sim c sebesar tujuh puluh lima ribu.
selanjutnya map yang isinya sudah bertambah kuitansi pembayaran saya serahkan kepada petugas polisi di loket 1. beliau memberi form kosong untuk diisi dan meminta sim asli saya. lagi-lagi diperlukan pulpen di sini. map lengkap ditambah form terisi dan sim asli saya kembalikan pada petugas di loket 1. saya duduk menunggu. tidak lama, nama saya dipanggil dari loket 2. saya mendapat nomor antrian.
kembali saya duduk dan menunggu. tidak lama pula, nomor antrian saya dipanggil untuk foto. ada antrian dua atau tiga orang di tempat foto sehingga masih cukup waktu untuk bercermin. petugas foto sedikit mengonfirmasi beberapa data yang telah saya isikan di form. selanjutnya proses foto selesai. saya kembali ke ruang tunggu duduk menunggu.
ternyata, di tempat duduk yang ini, saya menemukan ada contoh pengisian form kosong yang disimpan di meja kaca di depan tempat duduk. seharusnya saya lebih awal menemukan contoh pengisian form ini. tapi sudahlah, semua sudah berjalan lancar.
berikutnya, tidak lama menunggu, nama saya dipanggil dari loket 3. sim baru saya sudah jadi. dengan foto yang baru diambil beberapa saat sebelumnya. segera saya masukkan kembali ke dalam tempat sim di dompet. masih muat dengan baik. ternyata proses perpanjangan ini tidak membuat sim saya menjadi lebih panjang.
Tampilkan postingan dengan label kudus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kudus. Tampilkan semua postingan
Senin, 03 November 2014
Minggu, 13 April 2014
tiada daging yang tak retak
tercatat pertengahan pekan kemarin, tepat sehari setelah ulang tahun istri saya, berlangsung pemilu legislatif 2014. hajatan besar, meskipun bukan yang terbesar di dunia, karena belum lama ini berlangsung pemilu yang lebih besar di india. tak heran, india memang memiliki jumlah penduduk lebih banyak daripada kita.
secara nasional pemilu tahun ini melibatkan melibatkan 12 partai, teristimewa di aceh ada 15 partai. hasil quick count menegaskan survei yang selama ini menempatkan pdi-p, golkar dan gerindra secara berurutan sebagai 3 besar.
memang, hari pelaksanaan pemilu dijadikan hari libur nasional. namun tentu saja, satu hari libur yang berdiri sendiri tidak membuka kesempatan yang longgar bagi pemegang ktp non-domisili seperti saya untuk mencoblos di alamat ktp. jarak tangerang selatan tempat domisili sekarang dengan alamat ktp di kudus yang satu malam perjalanan dengan bus malam atau satu siang dengan bus siang cukup menyulitkan.
sebenarnya sekitar lebih dari lima tahun yang lalu di tahun 2006, salah seorang dosen yang mengajar dengan nada setengah bercanda menasehati kami sekelas untuk ganti ktp dengan ktp tempat domisili. kurang lebih beliau berkata seperti ini, "ganti ktp kalian, buang itu ktp kampung, ganti ktp sini. lha wong kalian tiap hari ngencingin daerah sini kok masih pake ktp kampung."
sayang sekali sampai sekarang saya belum memenuhi nasehat beliau itu dan masih setia memegang ktp kudus. well, alasan pipis di daerah sini saya pikir tidak terlalu relevan. karena toh, baik ketika saya pipis di sini ataupun di kudus, pada akhirnya akan sama-sama bermuara di laut jawa.
***
segala pilihan ada konsekuensinya. termasuk ketika saya memilih untuk masih tetap memegang ktp kudus itu. salah satunya adalah tidak mendapatkan undangan untuk memilih di tps dekat sini. cukup berliku, meskipun alhamdulillah pada akhirnya saya bisa mencoblos di tps sini.
terus terang, lagi-lagi ilmu lama tentang the fall of advertising and the rise of PR kembali saya praktikkan. saya memilih bertanya kepada teman yang saya percaya tentang calon anggota dpd yang layak dicoblos. beliau berbaik hati memberitahu, dan kemudian pada hari pencoblosan, sayapun mengikuti jawaban beliau.
ini karena memang saya sama sekali tidak tahu siapa calon anggota dpd yang layak dicoblos. untuk calon anggota legislatifnya tentu saya tidak perlu bertanya. saya pilih calon-calon anggota legislatif yang menurut saya baik.
nomor urut berapa saja?
berbeda-beda tetapi dari partai yang sama.
pks ya?
yups.
walah, partai daging. mengapa...?
mengapa tidak? saya percaya tiada daging yang tak retak. dan mungkin, kasus daging (kalo memang terbukti benar) yang rame kemarin itulah letak retaknya.
hasil quick count jelas menunjukkan masih banyak yang sependapat dengan saya. bila ternyata mereka ini memiliki alasan yang sama dengan saya, mungkin sudah saatnya para ahli bahasa mulai mempertimbangkan untuk memasukkan peribahasa ini ke dalam buku besar peribahasa indonesia.
secara nasional pemilu tahun ini melibatkan melibatkan 12 partai, teristimewa di aceh ada 15 partai. hasil quick count menegaskan survei yang selama ini menempatkan pdi-p, golkar dan gerindra secara berurutan sebagai 3 besar.
memang, hari pelaksanaan pemilu dijadikan hari libur nasional. namun tentu saja, satu hari libur yang berdiri sendiri tidak membuka kesempatan yang longgar bagi pemegang ktp non-domisili seperti saya untuk mencoblos di alamat ktp. jarak tangerang selatan tempat domisili sekarang dengan alamat ktp di kudus yang satu malam perjalanan dengan bus malam atau satu siang dengan bus siang cukup menyulitkan.
sebenarnya sekitar lebih dari lima tahun yang lalu di tahun 2006, salah seorang dosen yang mengajar dengan nada setengah bercanda menasehati kami sekelas untuk ganti ktp dengan ktp tempat domisili. kurang lebih beliau berkata seperti ini, "ganti ktp kalian, buang itu ktp kampung, ganti ktp sini. lha wong kalian tiap hari ngencingin daerah sini kok masih pake ktp kampung."
sayang sekali sampai sekarang saya belum memenuhi nasehat beliau itu dan masih setia memegang ktp kudus. well, alasan pipis di daerah sini saya pikir tidak terlalu relevan. karena toh, baik ketika saya pipis di sini ataupun di kudus, pada akhirnya akan sama-sama bermuara di laut jawa.
***
segala pilihan ada konsekuensinya. termasuk ketika saya memilih untuk masih tetap memegang ktp kudus itu. salah satunya adalah tidak mendapatkan undangan untuk memilih di tps dekat sini. cukup berliku, meskipun alhamdulillah pada akhirnya saya bisa mencoblos di tps sini.
terus terang, lagi-lagi ilmu lama tentang the fall of advertising and the rise of PR kembali saya praktikkan. saya memilih bertanya kepada teman yang saya percaya tentang calon anggota dpd yang layak dicoblos. beliau berbaik hati memberitahu, dan kemudian pada hari pencoblosan, sayapun mengikuti jawaban beliau.
ini karena memang saya sama sekali tidak tahu siapa calon anggota dpd yang layak dicoblos. untuk calon anggota legislatifnya tentu saya tidak perlu bertanya. saya pilih calon-calon anggota legislatif yang menurut saya baik.
nomor urut berapa saja?
berbeda-beda tetapi dari partai yang sama.
pks ya?
yups.
walah, partai daging. mengapa...?
mengapa tidak? saya percaya tiada daging yang tak retak. dan mungkin, kasus daging (kalo memang terbukti benar) yang rame kemarin itulah letak retaknya.
hasil quick count jelas menunjukkan masih banyak yang sependapat dengan saya. bila ternyata mereka ini memiliki alasan yang sama dengan saya, mungkin sudah saatnya para ahli bahasa mulai mempertimbangkan untuk memasukkan peribahasa ini ke dalam buku besar peribahasa indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)

