pernah mendengar earthing?
saya baru sekitar dua pekan kemarin. bukan mendengar, membaca tepatnya. dan justru di kompas edisi cetak. karena memang meskipun era internet sudah sedemikian jamaknya, media konvensional justru malah terasa lebih nyaman. gagal move on kali ya. :D
melihat judul artikel earthing membuat otak saya berpikir akan menemukan hal-hal tentang telinga di bagian isi artikel. dugaan saya, anda yang memiliki kecerdasan kurang dari atau sama dengan saya kemungkinan juga berpikir seperti itu.
dan ternyata saya -dan juga anda yang memiliki kecerdasan kurang dari atau sama dengan saya- salah besar. earthing sama sekali tidak berhubungan dengan telinga. earthing di sini bercerita tentang pembumian. bahwa ada manfaat besar menghubungkan diri secara langsung dengan bumi misalnya dengan berjalan tanpa alas kaki di tanah. saya lupa penyebab pastinya, dan agak merepotkan bila harus mencari arsip artikelnya di tumpukan koran bekas, tapi seingat saya itu berhubungan dengan sifat kelistrikan yang dimiliki bumi. yang pernah sekolah tentu masih ingat kalau bumi mampu menetralkan listrik dari petir.
***
sayangnya, walaupun sudah tahu manfaatnya, ada saja alasan untuk tidak mempraktikkan. alasan pertama tentu keterbatasan waktu. 9,5 + 2 jam sehari di kantor dan di jalan, rasanya memang tidak menyisakan banyak waktu untuk aktivitas seperti earthing ini. keterbatasan lahan menjadi alasan kedua. cukup sulit menemukan tanah kosong yang belum diaspal, atau disemen atau dipaving.
walaupun kalau mau dicari tentu saja sebenarnya ada saja waktu dan tempat untuk melakukan earthing ini. tidak perlu jauh-jauh. di dekat rumah pun bisa. tak percaya? saya mempraktikkannya sekitar sepekan kemarin. lumayan, dalam sebagian dari sekitar 300 meter perjalanan dari masjid ke rumah. setelah sholat isya kalo ga salah. sandalnya ilang soalnya. ya sudah, sekalian earthing saja, jalan pulangnya milih lewat pinggir jalan yang tidak dibeton.
Tampilkan postingan dengan label jurangmangu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurangmangu. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 Desember 2014
Rabu, 14 Mei 2014
end of the road: pintu tol ciledug
beberapa pekan kemarin, untuk pertama kalinya saya berkesempatan melalui jalan tol baru di ruas ciledug-meruya. pintu tolnya cukup dekat dari rumah, walaupun tentunya keberadaannya tidak terlalu signifikan berpengaruh karena mobil bukan kendaraan sehari-hari saya.
tentu saja, daripada mengatakan belum mampu membelinya, saya akan lebih suka mengatakan bahwa saya lebih menyukai perjalanan dengan sepeda motor. naik motor itu enak lho. kalo hujan ga kepanasan, kalo panas ga kehujanan.
***
pintu tol ciledug ini adanya pas di jalan ciledug raya, setelah pertigaan yang ke arah jalan swadarma kalo dari arah kebayoran. pertigaan ini letaknya sekitar 1 atau 1/2 km setelah itc cipulir. sehingga pintu tol ciledug ini paling jauh juga hanya 2 km dari itc cipulir.
dengan taksi saya melewati jalan tol itu. kebetulan sopir taksinya doyan ngobrol. ya sudahlah, saya ngobrol saja. ngobrol ini ngobrol itu, ngobrol sini ngobrol situ, sampai akhirnya menyinggung tema bahan bakar taksi yang dikemudikannya.
merk taksinya tidak terlalu saya ingat, yang pasti masih keluarganya blue bird. perihal bahan bakar yang saya tanyakan sederhana saja. saya hanya ingin tahu apakah taksi yang beliau kemudikan menggunakan bahan bakar bersubsidi atau tidak.
sesuai dugaan saya, taksi beliau memang memakai bahan bakar bersubsidi. well, naluri kebapakan saya tersentuh. saya trenyuh. sebagai pegawai pajak, saya mengidentikkan diri dengan seorang bapak. pegawai pajak mencari uang bagi negara, sama seperti seorang bapak mencari uang bagi keluarga.
jadi sebagai seorang bapak, saya trenyuh menyaksikan uang yang sudah susah-susah saya kumpulkan dibelanjakan dengan serampangan sebagai subsidi bbm bagi pengusaha taksi, blue bird lagi.
bayangkan saja, seandainya satu unit taksi itu mengkonsumsi 20 liter bensin sehari, dengan katakanlah subsidi sebesar 4000/liter, maka dalam sehari satu unit taksi itu sudah makan subsidi 80.000. bayangkan bila ternyata blue bird mempunyai 20.000 unit taksi, bisa dihitung jumlah subsidi yang dimakan blue bird adalah sebesar 80.000 x 20.000 = 1.600.000.000 atau 1,6 miliar rupiah.
ironisnya lagi, subsidi sebesar itu justru menyumbang kemacetan yang lebih parah bagi jalanan jakarta. seandainya angka itu dialokasikan untuk memperkuat transportasi massal, naluri kebapakan saya akan kembali tersentuh. tersentuh dengan rasa bangga, bahwa uang yang selama ini susah payah saya kumpulkan ternyata ada manfaatnya.
tentu saja, daripada mengatakan belum mampu membelinya, saya akan lebih suka mengatakan bahwa saya lebih menyukai perjalanan dengan sepeda motor. naik motor itu enak lho. kalo hujan ga kepanasan, kalo panas ga kehujanan.
***
pintu tol ciledug ini adanya pas di jalan ciledug raya, setelah pertigaan yang ke arah jalan swadarma kalo dari arah kebayoran. pertigaan ini letaknya sekitar 1 atau 1/2 km setelah itc cipulir. sehingga pintu tol ciledug ini paling jauh juga hanya 2 km dari itc cipulir.
dengan taksi saya melewati jalan tol itu. kebetulan sopir taksinya doyan ngobrol. ya sudahlah, saya ngobrol saja. ngobrol ini ngobrol itu, ngobrol sini ngobrol situ, sampai akhirnya menyinggung tema bahan bakar taksi yang dikemudikannya.
merk taksinya tidak terlalu saya ingat, yang pasti masih keluarganya blue bird. perihal bahan bakar yang saya tanyakan sederhana saja. saya hanya ingin tahu apakah taksi yang beliau kemudikan menggunakan bahan bakar bersubsidi atau tidak.
sesuai dugaan saya, taksi beliau memang memakai bahan bakar bersubsidi. well, naluri kebapakan saya tersentuh. saya trenyuh. sebagai pegawai pajak, saya mengidentikkan diri dengan seorang bapak. pegawai pajak mencari uang bagi negara, sama seperti seorang bapak mencari uang bagi keluarga.
jadi sebagai seorang bapak, saya trenyuh menyaksikan uang yang sudah susah-susah saya kumpulkan dibelanjakan dengan serampangan sebagai subsidi bbm bagi pengusaha taksi, blue bird lagi.
bayangkan saja, seandainya satu unit taksi itu mengkonsumsi 20 liter bensin sehari, dengan katakanlah subsidi sebesar 4000/liter, maka dalam sehari satu unit taksi itu sudah makan subsidi 80.000. bayangkan bila ternyata blue bird mempunyai 20.000 unit taksi, bisa dihitung jumlah subsidi yang dimakan blue bird adalah sebesar 80.000 x 20.000 = 1.600.000.000 atau 1,6 miliar rupiah.
ironisnya lagi, subsidi sebesar itu justru menyumbang kemacetan yang lebih parah bagi jalanan jakarta. seandainya angka itu dialokasikan untuk memperkuat transportasi massal, naluri kebapakan saya akan kembali tersentuh. tersentuh dengan rasa bangga, bahwa uang yang selama ini susah payah saya kumpulkan ternyata ada manfaatnya.
Minggu, 13 April 2014
tiada daging yang tak retak
tercatat pertengahan pekan kemarin, tepat sehari setelah ulang tahun istri saya, berlangsung pemilu legislatif 2014. hajatan besar, meskipun bukan yang terbesar di dunia, karena belum lama ini berlangsung pemilu yang lebih besar di india. tak heran, india memang memiliki jumlah penduduk lebih banyak daripada kita.
secara nasional pemilu tahun ini melibatkan melibatkan 12 partai, teristimewa di aceh ada 15 partai. hasil quick count menegaskan survei yang selama ini menempatkan pdi-p, golkar dan gerindra secara berurutan sebagai 3 besar.
memang, hari pelaksanaan pemilu dijadikan hari libur nasional. namun tentu saja, satu hari libur yang berdiri sendiri tidak membuka kesempatan yang longgar bagi pemegang ktp non-domisili seperti saya untuk mencoblos di alamat ktp. jarak tangerang selatan tempat domisili sekarang dengan alamat ktp di kudus yang satu malam perjalanan dengan bus malam atau satu siang dengan bus siang cukup menyulitkan.
sebenarnya sekitar lebih dari lima tahun yang lalu di tahun 2006, salah seorang dosen yang mengajar dengan nada setengah bercanda menasehati kami sekelas untuk ganti ktp dengan ktp tempat domisili. kurang lebih beliau berkata seperti ini, "ganti ktp kalian, buang itu ktp kampung, ganti ktp sini. lha wong kalian tiap hari ngencingin daerah sini kok masih pake ktp kampung."
sayang sekali sampai sekarang saya belum memenuhi nasehat beliau itu dan masih setia memegang ktp kudus. well, alasan pipis di daerah sini saya pikir tidak terlalu relevan. karena toh, baik ketika saya pipis di sini ataupun di kudus, pada akhirnya akan sama-sama bermuara di laut jawa.
***
segala pilihan ada konsekuensinya. termasuk ketika saya memilih untuk masih tetap memegang ktp kudus itu. salah satunya adalah tidak mendapatkan undangan untuk memilih di tps dekat sini. cukup berliku, meskipun alhamdulillah pada akhirnya saya bisa mencoblos di tps sini.
terus terang, lagi-lagi ilmu lama tentang the fall of advertising and the rise of PR kembali saya praktikkan. saya memilih bertanya kepada teman yang saya percaya tentang calon anggota dpd yang layak dicoblos. beliau berbaik hati memberitahu, dan kemudian pada hari pencoblosan, sayapun mengikuti jawaban beliau.
ini karena memang saya sama sekali tidak tahu siapa calon anggota dpd yang layak dicoblos. untuk calon anggota legislatifnya tentu saya tidak perlu bertanya. saya pilih calon-calon anggota legislatif yang menurut saya baik.
nomor urut berapa saja?
berbeda-beda tetapi dari partai yang sama.
pks ya?
yups.
walah, partai daging. mengapa...?
mengapa tidak? saya percaya tiada daging yang tak retak. dan mungkin, kasus daging (kalo memang terbukti benar) yang rame kemarin itulah letak retaknya.
hasil quick count jelas menunjukkan masih banyak yang sependapat dengan saya. bila ternyata mereka ini memiliki alasan yang sama dengan saya, mungkin sudah saatnya para ahli bahasa mulai mempertimbangkan untuk memasukkan peribahasa ini ke dalam buku besar peribahasa indonesia.
secara nasional pemilu tahun ini melibatkan melibatkan 12 partai, teristimewa di aceh ada 15 partai. hasil quick count menegaskan survei yang selama ini menempatkan pdi-p, golkar dan gerindra secara berurutan sebagai 3 besar.
memang, hari pelaksanaan pemilu dijadikan hari libur nasional. namun tentu saja, satu hari libur yang berdiri sendiri tidak membuka kesempatan yang longgar bagi pemegang ktp non-domisili seperti saya untuk mencoblos di alamat ktp. jarak tangerang selatan tempat domisili sekarang dengan alamat ktp di kudus yang satu malam perjalanan dengan bus malam atau satu siang dengan bus siang cukup menyulitkan.
sebenarnya sekitar lebih dari lima tahun yang lalu di tahun 2006, salah seorang dosen yang mengajar dengan nada setengah bercanda menasehati kami sekelas untuk ganti ktp dengan ktp tempat domisili. kurang lebih beliau berkata seperti ini, "ganti ktp kalian, buang itu ktp kampung, ganti ktp sini. lha wong kalian tiap hari ngencingin daerah sini kok masih pake ktp kampung."
sayang sekali sampai sekarang saya belum memenuhi nasehat beliau itu dan masih setia memegang ktp kudus. well, alasan pipis di daerah sini saya pikir tidak terlalu relevan. karena toh, baik ketika saya pipis di sini ataupun di kudus, pada akhirnya akan sama-sama bermuara di laut jawa.
***
segala pilihan ada konsekuensinya. termasuk ketika saya memilih untuk masih tetap memegang ktp kudus itu. salah satunya adalah tidak mendapatkan undangan untuk memilih di tps dekat sini. cukup berliku, meskipun alhamdulillah pada akhirnya saya bisa mencoblos di tps sini.
terus terang, lagi-lagi ilmu lama tentang the fall of advertising and the rise of PR kembali saya praktikkan. saya memilih bertanya kepada teman yang saya percaya tentang calon anggota dpd yang layak dicoblos. beliau berbaik hati memberitahu, dan kemudian pada hari pencoblosan, sayapun mengikuti jawaban beliau.
ini karena memang saya sama sekali tidak tahu siapa calon anggota dpd yang layak dicoblos. untuk calon anggota legislatifnya tentu saya tidak perlu bertanya. saya pilih calon-calon anggota legislatif yang menurut saya baik.
nomor urut berapa saja?
berbeda-beda tetapi dari partai yang sama.
pks ya?
yups.
walah, partai daging. mengapa...?
mengapa tidak? saya percaya tiada daging yang tak retak. dan mungkin, kasus daging (kalo memang terbukti benar) yang rame kemarin itulah letak retaknya.
hasil quick count jelas menunjukkan masih banyak yang sependapat dengan saya. bila ternyata mereka ini memiliki alasan yang sama dengan saya, mungkin sudah saatnya para ahli bahasa mulai mempertimbangkan untuk memasukkan peribahasa ini ke dalam buku besar peribahasa indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)



