Sabtu, 21 Januari 2012

plat k

saya tidak suka makanan pedas. saya lebih suka makanan yang manis. dan saya rasa jejak-jejak kemanisan makanan-makanan yang pernah saya makan itu masih jelas terpampang di wajah saya.
:p

saya tidak suka makanan pedas. itulah kenapa warung spesial sambal atau keripik maicih yang pernah sangat ngetren bukanlah sesuatu yang sangat menarik buat saya. walaupun faktanya saya akui kalo saya memang pernah satu kali masuk ke warung spesial sambal dan pernah beberapa kali memegang bungkus keripik maicih.

bungkus keripik maicih yang logonya hadap depan. bukan yang hadap samping. karena ternyata ada dua versi logo maicih, hadap depan dan hadap samping. yang mana yang palsu? katanya sih tidak ada yang palsu, asli semua. katanya juga, perbedaan itu karena ada perbedaan visi. yang satu katanya mengutamakan kualitas, yang satu lebih mengejar ke volume.

ya sudahlah, itu bukan urusan saya. biarkan mereka berbeda visi. toh saya juga bukan penggemar kripik pedas. hanya saja, fenomena hadap depan dan hadap samping ini juga saya jumpai pada diri saya dan istri saya.

bukan, bukan, kami tidak sedang berbeda visi. kami hanya sedang berboncengan sepeda motor. saya hadap depan, istri saya hadap samping. itu dapat kami lakukan dalam perjalanan jarak pendek, hanya dalam perjalanan jarak pendek. karena ternyata diboncengkan dalam posisi hadap samping itu cukup melelahkan. apalagi untuk perjalanan di jalanan jakarta yang terkenal kekurangramahannya.

dari yang macet, main serobot seenaknya, potong kanan potong kiri, kebut-kebutan, sampai yang kenceng-kencengan suara klakson dan knalpot.

jadi begitulah, untuk menempuh perjalanan di rimba jalanan jakarta, dibonceng dalam posisi hadap depan adalah pilihan yang lebih realistis bagi istri saya. dibonceng dengan motor tercinta yang bahkan setahun kemarin pun sudah berusia satu windu. udah tua memang. tapi itu motor tercinta. apalagi motor itu mengusung plat yang selalu membuat saya tidak lupa dari mana saya berasal. plat k.

ada yang suka menghafalkan plat nomor kendaraan?
plat b itu jakarta, plat bl itu aceh, bk itu medan, h itu semarang, l surabaya, d bandung. sedangkan k adalah plat untuk kendaraan-kendaraan bermotor dari daerah eks karesidenan pati.

kenapa eks?
ya karena sistem karesidenan itu sekarang udah ga dipake.
dulunya karesidenan pati itu mencakup daerah pati dan sekitarnya, seperti kudus, jepara, dan purwodadi. semuanya berplat k. hanya huruf terakhirnya saja yang dibedakan untuk membedakan asal kabupaten. seperti kudus, kampung saya tercinta, yang punya tiga varian huruf akhir, b, k, dan t.

dan ternyata, sekali waktu keganasan jalanan jakarta itu berubah menjadi keramahan karena faktor plat k ini. paling sedikit sudah tiga kali saya disapa sesama pengendara sepeda motor lain karena plat k.

pengendara lain: "kudusnya mana mas?"
saya: "saya dari getassrabi, kudus yang arah jepara."
p: "oh, deket dong, saya dari blablabla."
s: "blablabla....."
p: "blablabla....."

dan berlanjutlah obrolan penuh keramahan sambil sama-sama masih mengendarai sepeda motor di keramaian rimba jalanan jakarta yang terkenal kekurangramahannya.